Tenun ikat adalah kain yang motifnya terbentuk karena sebagian benang diikat dan diwarnai sebelum proses menenun dimulai. Ikat berbeda dari batik yang menggambar motif di atas kain jadi, dan berbeda dari songket yang menambahkan benang emas saat menenun. Kain ini dibuat di banyak daerah Indonesia dengan nama dan corak yang berbeda-beda.
Apa yang membedakan tenun ikat dari kain lain
Pada tenun biasa, kain diberi warna setelah selesai ditenun atau dibiarkan polos. Pada tenun ikat, perancang sudah menentukan motif saat benang masih berupa helai panjang. Bagian benang yang harus tetap putih atau berwarna lain diikat rapat dengan tali, lalu dicelup ke pewarna. Ikatan itu menahan warna masuk, sehingga setelah dibuka muncul pola berupa ruas-ruas warna di sepanjang benang. Baru setelah itu benang ditenun menjadi kain.
Karena motif ditentukan sebelum menenun, ketepatan menyusun ikatan menjadi pekerjaan yang paling menuntut keterampilan. Salah mengikat satu ruas berarti motif bergeser saat kain selesai. Proses ini juga membuat tenun ikat sulit diproduksi cepat dengan mesin cetak, sebab polanya melekat pada susunan benang, bukan dicetak di permukaan.
Ikat lungsi, ikat pakan, dan ikat ganda
Berdasarkan benang yang diikat, tenun ikat dibagi menjadi tiga jenis. Pembagian ini membantu saat membaca kain yang dipajang di museum atau dijual di pasar.
- Ikat lungsi: benang yang diikat adalah benang lurus (lungsi). Motif muncul memanjang mengikuti arah panjang kain. Contohnya kain Sumba dan sebagian kain Kalimantan.
- Ikat pakan: yang diikat adalah benang silang (pakan) yang dimasukkan saat menenun. Motif tampak melebar mengikuti arah lebar kain. Banyak ditemukan pada kain di Nusa Tenggara Timur dan Bali.
- Ikat ganda: lungsi dan pakan sama-sama diikat, sehingga motif bisa tersusun lebih rapat dan detail. Teknik ini menuntut perhitungan lebih rumit karena dua arah benang harus bertemu tepat.
Selain cara mengikat, ada kain yang motifnya dibuat dengan teknik lain seperti songket, plangi, atau tenun pakan tambahan. Mengetahui istilah-istilah ini berguna ketika membaca label di toko kain, karena pedagang kadang memakai kata “ikat” untuk kain yang sebenarnya dibuat dengan cara berbeda.
Daerah penghasil dan ciri motifnya
Hampir setiap daerah penghasil tenun ikat punya pola yang diwarisi turun-temurun, dan pola itu sering dikaitkan dengan cerita setempat. Berikut beberapa di antaranya.
Sumba, Nusa Tenggara Timur
Kain tenun Sumba memakai motif geometris tegas seperti belah ketupat, garis bersilang, dan figur manusia atau hewan yang disusun berulang. Warna cenderung gelap dengan aksen merah, hitam, dan putih. Di Sumba, kain tidak hanya dipakai sebagai pakaian, tetapi juga menjadi bagian dari pertukaran dalam pernikahan dan upacara adat. Untuk memahami kedudukan kain dalam rangkaian upacara, pembahasan di cara memahami upacara adat Indonesia untuk pemula bisa jadi titik awal.
Flores dan Lembata
Kain di wilayah ini sering memakai motif manusia, hewan, dan bentuk rumah adat yang ditata dalam baris horizontal. Beberapa daerah mengenal kain dengan corak yang menandai status atau marga pemakainya. Perbedaan corak antar kampung bisa cukup jelas sehingga orang setempat dapat menebak asal kain hanya dari polanya.
Bali
Tenun ikat Bali dikenal lewat kain gringsing, yang memakai teknik ikat ganda dan menghasilkan pola seperti sisik atau bintang. Proses pembuatannya memakan waktu lama karena setiap bagian benang diikat satu per satu. Kain ini biasa dipakai dalam upacara keagamaan.
Kalimantan
Di Kalimantan, tenun ikat dikerjakan oleh sebagian masyarakat Dayak dengan motif yang mengambil bentuk tumbuhan, binatang, dan garis berulang. Warna alam dari akar, daun, dan kulit kayu masih dipakai di beberapa sentra, meski kini banyak juga yang beralih ke pewarna sintetis karena lebih cepat dan murah.
Toraja, Sulawesi Selatan
Kain tenun Toraja memakai pola garis dan bidang geometris dengan warna dasar gelap. Kain tertentu punya peran dalam upacara kematian dan digunakan sebagai pelengkap seserahan. Pola dan warnanya tidak bebas dipilih, karena ada aturan adat yang mengaitkan kain dengan tahapan upacara.
Bahan pewarna dan pengaruhnya pada harga
Tenun ikat tradisional memakai pewarna alami dari akar mengkudu, kulit kayu tingi, daun indigo, dan sejenisnya. Prosesnya berlapis: benang dicelup berkali-kali untuk mendapatkan warna yang pekat dan tahan lama. Pewarna alami membuat warna tidak selalu rata sempurna, dan ketidaksamaan itu justru jadi tanda kain dikerjakan dengan tangan.
Kain dengan pewarna alam dan ikatan rapat biasanya lebih mahal karena waktu pengerjaannya panjang dan hasilnya tidak bisa disamakan persis. Namun harga juga dipengaruhi lebar kain, kerumitan motif, dan jenis benang. Benang katun lebih umum, sedangkan benang sutra dan benang dengan tambahan emas menaikkan harga cukup jauh.
Cara sederhana membedakan tenun ikat dari kain cetak
Motif tenun ikat tidak selalu simetris sempurna. Karena dibuat dari ikatan tangan, ada pergeseran kecil di beberapa titik, dan pergeseran itu berulang mengikuti pola. Pada kain cetak, motif biasanya sangat rata dan seragam. Coba perhatikan sisi belakang kain: pada tenun ikat, warna benang tembus sampai ke belakang, sedangkan kain cetak cenderung memperlihatkan bekas tinta yang lebih pudar di sisi dalam.
Mengamati pola seperti ini mirip dengan membaca motif pada kain lain. Prinsip dasarnya sama, yaitu memperhatikan bagaimana pola terbentuk, seperti dijelaskan dalam panduan cara membaca pola batik. Bedanya, pada tenun ikat pola lahir dari susunan benang, bukan dari canting atau cap.
Merawat kain tenun ikat
Kain tenun ikat sebaiknya tidak dicuci dengan mesin. Cuci dengan tangan memakai sabun lembut, keringkan di tempat teduh agar warna tidak pudar, dan simpan dengan cara digulung atau dilipat longgar. Hindari menggantung kain secara terus-menerus karena berat kain bisa meregangkan serat. Untuk kain yang dianggap pusaka, banyak keluarga menyimpan dengan bahan penyerap kelembapan dan sesekali mengangin-anginkannya.
Tenun ikat menunjukkan bahwa motif bisa dibentuk sejak benang masih berupa helai, jauh sebelum kain selesai. Teknik ikat lungsi dan pakan menghasilkan pola yang berbeda, dan tiap daerah menyimpan corak yang dikaitkan dengan adat setempat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah tenun ikat sama dengan batik?
Tidak. Batik membuat motif di atas kain yang sudah jadi dengan lilin dan pewarna, sedangkan tenun ikat membentuk motif dengan mengikat benang sebelum ditenun. Proses, alat, dan hasil akhirnya berbeda.
Berapa lama waktu membuat sehelai tenun ikat?
Waktunya bervariasi tergantung kerumitan motif dan lebar kain. Kain dengan ikat ganda dan pewarna alami bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, sedangkan kain dengan motif sederhana lebih cepat.
Bagaimana cara merawat kain tenun ikat agar tidak cepat rusak?
Cuci dengan tangan memakai sabun lembut, keringkan di tempat teduh, dan simpan dengan lipatan longgar. Hindari mesin cuci, pemutih, serta paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama.
